Wednesday, 27 May 2015

Uang 5000 Rupiah pengasah intan Tahun 1980

Uang 5000 rupiah pengasah intan 1980. Merupakan uang kertas yang di cetak oleh BI Bergambar orang yang sedang mengasah intan dan bertanda air Ibu Dewi Sartika. Selama dekade 1980 an, Bank Indonesia menerbitkan 8 jenis uang kertas yang terdiri dari : Pecahan 10000 rupiah, Pecahan 5000 rupiah, Pecahan 1000 rupiah, Pecahan 500 rupiah dan Pecahan 100 rupiah.


Ciri-ciri 5000 Rupiah pengasah intan Tahun 1980:
– Berukuran: 153 x 76 mm
– Di cetak oleh: Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (PERURI)
– Bertanda air: Dewi Sartika
– Ditanda tangani: Rachmat Saleh Durmawel Achmad
– Nomor Seri: 3 huruf 6 angka

Minat dengan uang ini bisa menghubungi:no 085 643 048 406 (royak)

Uang 100 rupiah burung dara 1984

Uang 100 rupiah burung dara 1984. Merupakan uang kertas terendah yang di cetak oleh BI pada masa itu. Bergambar burung dara mahkota dan bertanda air Garuda Pancasila. Selama dekade 1980 an, Bank Indonesia menerbitkan 8 jenis uang kertas yang terdiri dari : Pecahan 10000 rupiah, Pecahan 5000 rupiah, Pecahan 1000 rupiah, Pecahan 500 rupiah dan Pecahan 100 rupiah.

Uang 100 rupiah burung dara 1984


Ciri-ciri 100 Rupiah Burung Dara Mahkota Tahun 1984:
– Ukuran:135 x 64 mm
– Cetakan: Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (PERURI)
– Tanda air: Burung Garuda Pancasila
– Tanda tangan: Arifin M. Siregar Sujitno Siswowidagdo
– Nomor Seri: 3 huruf 6 angka


Tersedia juga gepokan (100 lembar)
Minat dengan uang ini bisa menghubungi:no 085 643 048 406 (royak)

Uang Kuno 500 Rupiah 1982 Bunga Bangkai

Uang 500 rupiah bunga bangkai 1982. Selama dekade 1980 an, Bank Indonesia menerbitkan 8 jenis uang kertas yang terdiri dari : Pecahan 10000 rupiah, Pecahan 5000 rupiah, Pecahan 1000 rupiah, Pecahan 500 rupiah dan Pecahan 100 rupiah.


Pecahan 500 rupiah
Bergambar bunga bangkai dan bertanda air Jend. Achmad Yani.
Uang 500 rupiah bunga bangkai 1982

500 rupiah bunga bangkai 1982
Ciri-ciri 500 Rupiah Bunga Bangkai Tahun 1982:
– Ukuran:140 x 68 mm
– Cetakan: Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (PERURI)
– Tanda air: Jendral Ahmad Yani
– Tanda tangan: Arifin M. Siregar Sujitno Siswowidagdo
– Nomor Seri: 3 huruf 6 angka
Minat dengan uang ini bisa menghubungi:no 085 643 048 406 (royak)

Monday, 25 May 2015

Uang Kertas Seri Hewan tahun 1957

Uang Kertas Seri Hewan tahun 1957. Seri hewan merupakan seri paling menarik, paling dicari dan memiliki tingkat kesulitan paling tinggi dibanding seri-seri lainnya. Untuk melengkapi seri ini dibutuhkan waktu yang lama, kerja keras dan dana yang sangat besar. Beberapa pecahan yaitu 10 dan 25 rupiah memiliki harga yang fantastis dan sangat2 sukar didapatkan. Semua pecahan seri hewan tidak memiliki tahun penerbitan, tetapi walaupun demikian seri ini memiliki gambar dan warna yang sangat menarik dan bersifat universal. Setiap orang di seluruh dunia pasti mengetahui nama-nama hewan yang tercetak di seri ini, sehingga tidak heran menjadi incaran para kolektor mancanegara.

Pecahan 5 rupiah 
Bergambar orang utan di bagian depan dan candi Prambanan di bagian belakang, memiliki tiga variasi nomor seri, yaitu 1 huruf, 2 huruf dan 3 huruf. Variasi 1 huruf sangat sukar ditemukan dan biasanya berada dalam kondisi kurang baik. Variasi 1 huruf yang UNC jarang sekali ditemukan dan memiliki nilai jual sangat tinggi. Variasi 2 huruf cukup sering ditemukan apalagi dengan variasi 3 hurufnya sangat mudah didapatkan. 

Pecahan 10 rupiah 
Bergambar Rusa di bagian depan dan perahu kora-kora dibagian belakang. Pecahan ini ditarik kembali setelah sempat beredar selama beberapa hari. Sehingga tingkat kesulitan untuk mendapatkan pecahan 10 rupiah sangatlah tinggi. Sebagian besar versi yang tersedia di pasaran adalah versi SPECIMEN. Harga pecahan 10 rupiah versi SPECIMEN saat ini bernilai jutaan rupiah, sedangkan versi beredarnya tidak dapat ditentukan karena sangat langka dan hampir tidak pernah terlihat.

Pecahan 25 rupiah 
Seperti juga dengan pecahan 10 rupiah, pecahan 25 rupiah yang bergambar badak ini hanya beredar beberapa hari sehingga tingkat kesulitan uang ini juga sama besarnya dengan pecahan 10 rupiah. Harga versi SPECIMEN nya sama dengan pecahan 10 rupiah sedangkan versi beredarnya sangat-sangat langka sehingga harga pasaran juga tidak dapat dipastikan. Kedua pecahan 10 dan 25 rupiah ini merupakan kunci dari semua uang terbitan Bank Indonesia. Hanya beberapa gelintir kolektor saja yang memiliki kedua pecahan ini.

Pecahan 50 rupiah
Bergambar buaya di bagian depan dan mesjid Raya Deli di bagian belakang, terdiri dari 2 variasi nomor seri yaitu satu huruf dan dua huruf. Variasi satu huruf jauh lebih sulit didapatkan daripada variasi dua huruf dan berharga sekitar satu setengah kali nya. 

Pecahan 100 rupiah
Pecahan yang bergambar tupai ini merupakan pecahan yang paling mudah didapat dan berharga jual di bawah pecahan2 lainnya, pecahan ini mempunyai tiga variasi nomor seri yaitu satu huruf, dua huruf dan tiga huruf. Seperti yang lainnya pecahan variasi satu huruf lebih sulit didapatkan dibandingkan variasi2 lainnya. 

Pecahan 500 rupiah
Pecahan bergambar macan ini merupakan salah satu uang kertas yang paling dicari oleh para kolektor baik lokal maupun mancanegara. Gambarnya yang bagus dengan tema universal disertai warna yang sangat menarik membuat uang ini semakin lama semakin sulit ditemukan. Pecahan 500 rupiah ini terdiri dari dua variasi yaitu satu huruf dan dua huruf. Tingkat kesulitan maupun harga variasi satu huruf berlipat-lipat dibandingkan variasi dua huruf. 


Pecahan 1000 rupiah
Seperti pada pecahan 500 rupiah, uang yang bergambar gajah ini juga sangat digemari oleh para kolektor. Semakin lama semakin sukar untuk mendapatkan jenis yang UNC sehingga harganyapun semakin membumbung tinggi. Terdapat dua variasi nomor seri, satu huruf dan dua huruf. Variasi satu huruf tentu saja lebih sukar didapatkan dibanding variasi dua huruf, sehingga harganyapun juga lebih tinggi. 

Pecahan 2500 rupiah
Bergambar komodo, dengan bentuk yang besar dan corak yang menawan merupakan salah satu uang kertas yang paling diburu. Pecahan ini relatif mudah didapatkan bahkan yang UNC nya pun masih bisa diperoleh. Terdiri dari tiga variasi nomor seri, satu huruf, dua huruf dan dua huruf diatas satu huruf. Variasi satu huruf sangat langka dan sangat sulit ditemukan sehingga harganyapun berlipat2 dibandingkan variasi2 lainnya.

Pecahan 5000 rupiah (tidak beredar)
Pecahan yang bergambar banteng ini merupakan salah satu kunci dari seluruh uang kertas yang pernah beredar di Indonesia. Pecahan 5000 rupiah ini berukuran sangat besar bahkan merupakan uang kertas Indonesia yang mempunyai ukuran terbesar. Pecahan berwarna merah ini tidak jadi diterbitkan dan hanya terdapat dalam bentuk SPECIMEN bernomor seri 5000A 0000, walaupun menurut kabar angin terdapat bentuk versi yang beredarnya. Harga pecahan ini tidak dapat ditentukan karena sangat langka dan amat jarang beredar di kalangan kolektor. 

Karena harganya yang sangat tinggi maka tidak heran banyak beredar bentuk palsunya. Salah satu ciri yang membedakan adalah ukuran versi yang palsu jauh lebih kecil dari aslinya dan tentu saja warnanya tidak seterang aslinya. Hal ini sedikit banyak menguntungkan para kolektor pemula yang belum begitu paham tentang keaslian suatu uang.

Uang Kertas Seri wayang (1933-1939)

Uang Kertas Seri wayang (1933-1939). Seri wayang merupakan seri paling favorit dan paling diburu oleh para kolektor. Bentuknya yang indah, nominalnya yang lengkap dan kesulitannya yang sangat besar menyebabkan seri ini mengalami kenaikan harga yang sangat luar biasa. Tidak heran banyak kolektor baik pemula maupun senior yang seringkali mengalami kesulitan untuk melengkapi seri ini. Seri wayang terdiri dari 8 pecahan dan 14 variasi. Pecahan kecil (5, 10 dan 25 gulden) masing-masing memiliki 3 variasi tanda tangan. Sedangkan pecahan besar hanya satu variasi

Pecahan 5 gulden
Satu-satunya pecahan yang hanya bergambar satu orang penari Jawa, pecahan lainnya bergambar dua orang penari. Mempunyai watermark mirip seri Coen, yaitu tulisan JB yang tersebar di seluruh kertas. Pecahan terkecil ini adalah pecahan yang paling mudah didapatkan.

Variasi tanda tangan yang ada:
1. Praasterink (1934-1937), tersulit ditemukan
2. JC Waveren (1937-1939)
3. Smits (1939)

Pecahan 10 gulden
Pecahan ini juga relatif masih mudah ditemukan. Mempunyai watermark ombak vertikal, Harga perlembar untuk kondisi fine sekitar beberapa puluh ribu rupiah saja, tetapi untuk kondisi UNC sudah cukup sulit ditemukan.

Pecahan ini juga terdiri dari 3 variasi tanda tangan:
1. Praasterink (1933-1934)
2. JC Waveren (1937-1938)
3. Smits (1939)

Pecahan 25 gulden

Bentuknya sudah lebih besar dari kedua pecahan sebelumnya, bergambar sepasang penari wayang. Uang dengan watermark bergaris zig-zag ini berharga sekitar 250 ribu rupiah perlembar untuk kondisi fine, sedangkan untuk kondisi UNC sudah di atas Rp. 2 juta. Apalagi untuk variasi tanda tangan yang sulit (Smits).

Variasi yang ada :
1. Praasterink 
2. JC Waveren 
3. Smits, merupakan variasi tersulit sekaligus termahal


Pecahan 50 gulden
Mulai pecahan ini, bentuk uang sudah sangat besar dan cukup sulit ditemukan dalam segala kondisi. Memiliki watermark patung Hindu dan variasi tanda tangan hanya ada satu saja yaitu JC Waveren. Pecahan 50 gulden merupakan pecahan terakhir yang masih mungkin terjangkau oleh kebanyakan kolektor, harga untuk kondisi fine sekitar 1 juta rupiah sedangkan untuk kondisi EF sekitar 3 juta rupiah. Untuk kondisi UNC, saya tidak dapat memperkirakannya.

Pecahan 100 gulden
Kebanyakan kolektor apalagi para pemula, sangat mungkin sudah tidak bisa memliki pecahan ini lagi. Selain cukup sulit, pecahan ini selalu mengalami kenaikan harga yang sangat pesat. Sekitar tahun 2001 harga uang ini untuk kondisi VF masih sekitar 4 juta, tetapi saat ini sudah mendekati angka 20 juta rupiah perlembarnya. Apalagi untuk kondisi yang lebih baik lagi. Pecahan 50, 100, 200, 500 dan 1000 gulden seringkali disebut sebagai wayang besar dan semuanya mempunyai tanda air yang sama yaitu patung Hindu.

Pecahan 200 gulden
Pecahan ini jelas sangat-sangat sulit ditemukan dan bernilai sangat tinggi. Perkiraan harga untuk kondisi Fne sekitar 20an juta rupiah

Pecahan 500 gulden
Pecahan ini lebih sulit lagi ditemukan, dalam 5 tahun terakhir hanya sekitar 3 lembar saja yang pernah terlihat di pasaran. Harga untuk kondisi VF mungkin sudah melebihi angka 30 juta rupiah.

Pecahan 1000 gulden
Merupakan pecahan terbesar sekaligus tersulit ditemukan. Sangat dicari oleh para kolektor, dan hampir tidak pernah terlihat di pasaran. Harga perlembar untuk kondisi fine sekitar 50 jutaan rupiah. Jangan heran hanya segelintir kolektor kelas kakap saja yang memilikinya.




Uang Kuno Kertas Seri Sukarno (1960 - 1961)

Berlaku di Propinsi Irian Barat pada tahun 1963-1973 setelah Belanda meninggalkan daerah tersebut, seri Irian Barat ini digunakan sebagai pengganti uang gulden Nederlands Niew Guinea (akan dibahas di lain kesempatan). Semua uang kertas dalam seri ini walaupun bentuk, dan ukurannya sama dengan uang seri Sukarno tahun 1960 yang berlaku secara nasional, mempunyai warna yang berbeda serta terdapat cap IRIAN BARAT.

Pecahan 1 Rupiah
.
Berwarna kuning orange, pengaman bukan berupa tanda air tetapi kertas yang berserat halus. Nomor seri terdiri dari 3 huruf dan selalu dimulai dengan IB (Irian Barat), disusul 1 huruf lain dan 6 angka merah. Pecahan ini termasuk sulit ditemukan dalam kondisi UNC.

Pecahan 2,5 Rupiah
Ukuran, gambar depan dan pengaman sama persis dengan pecahan sebelumnya, berwarna ungu, sistem penomoran sama dengan pecahan 1 Rupiah. Lebih sulit ditemukan dan bernilai sedikit lebih tinggi daripada pecahan 1 Rupiah. 

Pecahan 5 Rupiah
.
Mulai pecahan ini dan seterusnya mempunyai tanda air bergambar Sukarno. Sistem penomoran juga terdiri dari 3 huruf yang selalu dimulai dengan IB, semuanya berwarna merah. 

Pecahan 10 Rupiah
.
Berwarna merah muda dan bertanda air Sukarno. Sistem penomoran juga sama dengan yang lainnya, selalu dimulai dengan IB dan berwarna merah. 

Pecahan 100 Rupiah

Merupakan pecahan terbesar sekaligus tersulit ditemukan. Berwarna hijau dengan watermark Sukarno. Nomor seri juga berwarna merah dan selalu dimulai dengan huruf IB. 

Seri Sukarno RIAU

Mulai diberlakukan tanggal 15 Oktober 1963 menggantikan seri Ratu Elizabeth yang bertahun 1953 (Malaya and British Borneo). Seri ini hanya beredar sekitar 1 tahun saja sehingga lebih langka dan lebih sulit dijumpai. Kurs yang berlaku saat itu adalah 1 Riau Rupiah = 14,7 Indonesia Rupiah.

Semua pecahan seri Riau nomor serinya berwarna hitam dan selalu dimulai dengan huruf KR (Kepulauan Riau).

Pecahan 1 Rupiah
Berwarna orange (sama dengan Irian Barat), tidak mempunyai watermark tetapi kertas yang digunakan berserat halus. Pecahan ini sangat sulit ditemukan dalam kondisi UNC.

Pecahan 2,5 Rupiah
Berwarna biru tua yang mirip dengan seri Borneo. 

Pecahan 5 Rupiah
Bentuk dan warnanya sama seperti seri Sukarno 1960 yang beredar luas di wilayah Indonesia lainnya, sehingga pecahan ini seringkali dipalsukan. Cara membedakannya cukup sulit, pertama dengan memperhatikan tanda airnya yaitu Sukarno, kedua memperhatikan nomor serinya yang selalu dimulai dengan huruf KR berwarna merah dan disusul dengan 3 huruf yang selalu dimulai dengan X berwarna hitam. Contoh : KR XAB, KR XFT, KR XDY. Dan ketiga dengan memperhatikan cap RIAU nya.

Pecahan 10 Rupiah
.
Bentuk dan warnanya mirip dengan pecahan yang sama dari seri Irian Barat. 

Pecahan 100 Rupiah

Merupakan pecahan terbesar sekaligus tersulit dijumpai. Sangat langka dan bernilai tinggi. Hampir tidak pernah ditemukan yang berkondisi UNC, gambar di bawah ini merupakan pecahan 100 rupiah versi beredar terbaik yang pernah saya jumpai.